[Update] Info Pengamat: Debat Capres Seringkali Digunakan Menurunkan Potensi Image Lawan Update 2023

HBLpegadaian.id – Pengamat Politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Sukri Tamma menilai debat Capres-cawapres yang ditampilkan para kandidat seringkali digunakan untuk menurunkan potensi image dari lawannya.

“Memang perlu disadari bahwa untuk konteks Indonesia, debat Capres biasanya memang dimanfaatkan untuk 2 hal. Pertama menyampaikan visi misi kandidat dalam upaya meningkatkan potensi elektabilitasnya di mata masyarakat,” katanya saat dihubungi, Selasa 9 Januari 2024.

“Tapi di saat yang bersamaan sebenarnya seringkali memang debat kandidat dipakai atau dimanfaatkan oleh para kandidat untuk mencoba menurunkan potensi image dari para saingannya,” lanjut Sukri.

Dekan Fisip Unhas ini juga bilang, dalam debat juga akan ada pertanyaan yang tendensius. Sebab, dalam kerangka mendowngrade dan juga bisa digunakan untuk menurunkan elektabilitas lawan.

Tak hanya itu, debat juga bisa membuka kekurangan para capres yang akan memimpin bangsa ini. Meskipun pada prinsipnya, substansi dari perdebatan adalah saling beradu gagasan visi dan misi.

“Jadi yang akan meninggikan atau menurunkan image dari kandidat itu pada konteks, kebaikan atau yang paling baik di antara visi misi itu. Tapi itu tadi, karena visi misinya tidak terlalu bisa dieksplor dengan baik, waktu juga sangat sempit saya kira sulit juga untuk dimanfaatkan dengan mengeksplor visi misi kemudian yang ada adalah visi misi yang ada secara umum,” jelas Sukri.

“Kemudian juga ada hal-hal yang bersifat jebakan, hal-hal yang bersifat untuk menyusahkan pasangan lain dan seterusnya itu yang ada. Tapi kita ini sebenarnya intinya ini kan debat ketiga adalah hal yang sebenarnya sudah terjadi sejak debat pertama,” lanjutnya lagi.

Lebih jauh, kecendrungan dalam berdebat di Indonesia juga seringkali digunakan untuk memberikan pertanyaan yang bisa dinilai oleh masyarakat salah satu Capres tak tahu jawabannya.

“Tidak mungkin seorang kandidat menanyakan kepada kandidat lain pertanyaan yang sangat mudah dijawab, atau pertanyaan yang membuat si kandidat lawan bisa mengeksplor kelebihannya, kan tidak mungkin,” papar Sukri.

“Jadi yang ada memang adalah berupaya agar ada jawaban, ada pernyataan yang membuat kandidat lawan kesulitan, memang seperti itu saya kira. Meskipun orang akan membaca mungkin ini adalah saling serang personal, tapi itu yang berkembang memang.”

“Nah ini makanya masyarakat perlu lebih evaluatif untuk menilai, jangan hanya melihat apa yang disampaikan, tapi betul-betul melihat itu secara konsisten mengaitkan dengan track recordnya para kandidat dan seterusnya,” pungkasnya. (War)

Silahkan kirim ke email: [email protected].

Stay connect With Us :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *